May 21, 2022

JAKARTA – CEO/Managing Partner Grant Thornton Indonesia Johanna Gani menilai target Bank Indonesia (BI) terhadap pertumbuhan ekonomi tahun 2022 sebesar 5,5 persen year-on-year (YoY) cukup realistis.

“Kami sama seperti Bank Indonesia. Angka itu realistis melihat perbaikan industri dan investasi,” kata Johanna dalam webinar, Rabu (26/1/2022).

Johanna mengatakan laporan tahunan Grant Thornton International Business Report (IBR) menggambarkan persepsi pelaku bisnis global tahun 2022 optimistis.

Ia memaparkan 87 persen pelaku bisnis Indonesia meyakini pendapatan (revenue) perusahaan akan meningkat selama 12 bulan ke depan.

“Dapat kita lihat dari daya beli masyarakat dan geliat perekonomian yang semakin membaik sejak kuartal III lalu,” kata Johanna.

Menurutnya, keseimbangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kesehatan masyarakat amat diperlukan.

“Dalam waktu dekat kita perlu waspada akan adanya varian baru dan juga risiko lonjakan kasus saat libur Natal dan Tahun Baru yang dapat berpengaruh negatif pada situasi pemulihan ekonomi,” tuturnya.

Di tahun depan pemerintah dapat mempertimbangkan kebijakan fiskal untuk meningkatkan daya beli masyarakat seperti insentif ekonomi bagi dunia usaha.

“Selain tentunya tetap diperlukan sinergi yang tinggi antara pemerintah dan masyarakat dalam hal pengendalian pandemi yang berdampak pada pemulihan ekonomi” ucap Johanna.

Sebelumnya, BI optimistis pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 di kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen year on year (yoy).

Hal itu seperti dikatakan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia, Rabu (26/1/2022).

“Akselerasi pertumbuhan ekonomi ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi serta di tengah tetap terjaganya belanja fiskal pemerintah dan ekspor,” tutur Perry.

Perry mengatakan syarat perbaikan ekonomi masih bergantung pada penanganan kesehatan dan tingkat vaksinasi di dalam negeri.

Perluasan vaksinasi, terang Perry, tujuannya untuk mencapai imunitas massal hingga perbaikan mobilitas masyarakat yang berdampak pada perbaikan sektor ekonomi.

“Konsumsi rumah tangga bisa tumbuh di kisaran 5 persen yoy pada semester II-2022. Kinerja ekspor juga diperkirakan tetap mumpuni dan bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi,” lanjutnya.

Perry menjelaskan peningkatan ekspor terjadi didorong tingginya permintaan dan lonjakan harga komoditas global.

Bank Indonesia juga mencatat potensi investasi tahun 2022 akan tumbuh sebab meningkatnya permintaan domestik dan proyek infrastruktur strategis nasional yang kembali dilanjutkan.

“Penanaman Modal Asing (PMA) diperkirakan akan naik seiring iklim investasi di dalam negeri membaik,” tambah Perry.

Perry menambahkan ketersediaan lapangan kerja akan meningkat tahun ini menyusul sektor pertambangan, industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian yang perlahan pulih.

“Tapi tidak ada risiko yang masih harus kita wanti-wanti. Ini berkaitan kenaikan kasus Covid-19,” pungkasnya.

Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) atau suku bunga acuan sebesar 3,50 persen.

Gubernur Perry menilai, keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, dan sistem keuangan serta upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, di tengah tekanan eksternal yang meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.