Home Business HT: Jangan Biarkan Rupiah Tembus Level Rp14.000/USD
HT: Jangan Biarkan Rupiah Tembus Level Rp14.000/USD

HT: Jangan Biarkan Rupiah Tembus Level Rp14.000/USD

0
0

JAKARTA – Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) meminta Bank Indonesia (BI) mengintervensi pasar agar nilai tukar rupiah tidak terus terpuruk terhadap dolar AS (USD).

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah beberapa hari terakhir terus melemah terhadap dolar AS. Dalam perdagangan akhir pekan lalu, rupiah hampir menyentuh angka Rp14.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah pun masih berlanjut di awal pekan ini.

Menurut data dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah siang ini tertahan di level Rp13.894 per dolar AS. Posisi ini memperlihatkan rupiah masih tidak berdaya dari posisi sebelumnya Rp13.804 per dolar AS.

HT mengatakan, BI perlu bertindak agar nilai tukar rupiah tidak sampai menembus batas psikologis Rp14.000 per dolar AS. Hal itu penting agar perekonomian tidak terganggu.

“BI harus intervensi rupiah agar jangan menembus angka psikologis Rp14.000 per dolar AS. Fundamental kita bagus, tapi nilai tukar juga soal kepercayaan pasar,” tuturnya di Jakarta, Senin (23/4/2018).

Lebih lanjut, Ketua Umum Partai Perindo ini mengimbau para pelaku usaha atau pun individu yang memiliki cadangan mata uang Paman Sam dalam jumlah banyak untuk ikut membantu meredakan tekanan terhadap rupiah. “Saya imbau siapa pun yang memiliki dolar banyak, tukar ke rupiah, kasihan ekonomi Indonesia kalau sampai terganggu,” pungkasnya.

Terpisah, Analis Reliance Securities Lanjar Nafi menilai BI salah strategi dalam menstabilkan mata uang rupiah. Lanjar menilai pelemahan rupiah antara lain terimbas dari strategi BI dalam menahan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate.

“Bunga acuan yang terus-terusan ditahan ini tidak berbanding lurus dengan perekonomian AS yang semakin membaik. Perbaikan ekonomi di AS dengan prospek Fed rate mampu membuat capital outflow dan permintaan terhadap dolar meningkat,” ujarnya kepada SINDOnews.

Lanjar menambahkan, menyikapi pelemahan yang terus terjadi, dalam hal ini BI harus segera melakukan intervensi sebelum rupiah makin terpuruk. “Sebelum breakout ke Rp14.000 per dolar AS BI harus naikkan rate,” tandasnya.

Sebelumnya, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Firman Mochtar menyebut pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan, yang terutama disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Dia mengakui bahwa tekanan terhadap rupiah terutama disebabkan oleh perbaikan indikator ekonomi AS yang diikuti ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga FFR yang lebih agresif, serta risiko berlanjutnya perang dagang AS-China.

Hal itu menurutnya mendorong pembalikan modal asing dan tekanan depresiasi nilai tukar pada berbagai mata uang dunia, termasuk Indonesia.

“Rupiah rata-rata melemah sebesar 1,13%, namun rupiah kembali stabil pada paruh pertama bulan April 2018 yang didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat dan sentimen positif kenaikan rating,” kata Firman baru-baru ini.

Dia memastikan, BI juga akan terus mewaspadai meningkatnya risiko ketidakpastian pasar keuangan global dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[xcarousel condition="" order="DESC" featured="0" cats="movies" autoplay="" count="5"]