Home Travel Kaligua, Oase Air Abadi dan Kebun Teh di Atas Awan
Kaligua, Oase Air Abadi dan Kebun Teh di Atas Awan

Kaligua, Oase Air Abadi dan Kebun Teh di Atas Awan

0
0

BREBES – Hari masih gelap ketika kereta yang dinaiki Estu, 28, tiba di stasiun Brebes. Sembari menahan kantuk di subuh hari, gadis berkulit putih ini memesan ojek onlineuntuk mengantarnya ke rumah seorang teman di kota Brebes.

Dari Ibukota, jiwa petualang membawanya ke Kota Telur Asin demi satu tujuan: mengunjungi kebun teh Kaligua. Beruntung, seorang teman yang tinggal di Brebes bersedia mengantar ke sana.

“Penasaran aja. Brebes ini kan lebih terkenal bawang merah dan pantura-nya sebagai daerah panas, tapi kok ini ada kebun teh?” kata penyuka travelling ini antusias.

Seperti generasi milenial umumnya, Estu terbilang aktif bermedia sosial. Dia mengakui, rasa penasaran akan kebun teh Kaligua dipicu unggahan foto-foto di Instagram (IG) temannya yang sudah berwisata ke kebun teh peninggalan Belanda itu.

“Fotonya bagus banget. Kebetulan aku suka kegiatan outdoor dan wisata petualangan seperti naik gunung atau perbukitan. Aku juga suka main ke destinasi yang nggak banyak orang tahu,” tutur gadis asal Yogyakarta itu.

Wisata Agro Kebun Teh Kaligua terletak di dataran tinggi, tepatnya di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Di kawasan ini terdapat perkebunan dan pabrik teh yang dibangun tahun 1889. Dulu pengelolanya adalah orang Belanda bernama Van De Jong, yang lantas diabadikan menjadi nama restoran yang cukup ikonik.

Kebun Teh Kaligua selanjutnya dikelola oleh BUMN PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) dan hingga kini masih memproduksi teh hitam merek Kaligua, disamping diversifikasi usaha dengan menjadikan kawasan ini sebagai objek wisata untuk umum.

Sejatinya, Kaligua bukan destinasi baru, hanya saja kurang terekspos. Terselip di lereng barat Gunung Slamet, kawasan ini memiliki ketinggian sekitar 1.500 – 2.050 meter dari permukaan laut (mdpl).

Untuk mencapainya, disarankan menggunakan kendaraan pribadi. Pasalnya, belum ada angkutan umum yang memadai ke kawasan kebun teh yang letaknya sekitar 20 Km dari kota Kecamatan Bumiayu atau sekitar 1,5-2 jam berkendara dari kota Brebes.

Perjalanan yang berkelok dan menanjak tidak terasa membosankan karena view-nya adalah gunung, hamparan hijau sawah dan pepohonan yang meneduhkan mata.

Semakin mendekati lokasi, usahakan jangan tertidur karena di titik tertentu saat cuaca cerah akan terlihat gumpalan awan-awan putih melayang di udara, yang ketinggiannya tampak sejajar dengan tempat kita berpijak. Waah…rasanya seperti berada di negeri di atas awan.

Jika ingin lebih lama memandangi awan seputih kapas itu, mampir saja di warung-warung pinggir jalan yang menyediakan teh, kopi dan aneka kudapan.

Memasuki gerbang Wisata Agro Kebun Teh Kaligua, pengunjung harus terlebih dulu membeli karcis masuk seharga Rp20.000 per orang. Setelah itu, pengunjung beserta kendaraannya bisa masuk hingga ke dalam kawasan perkebunan.

Ikon cangkir raksasa bertuliskan Teh Kaligua menyambut di muka gerbang, dengan hamparan kebun teh sebagai latar belakangnya. Rasa lelah pun terbayar dengan eksotika alam yang membentang di depan mata.

Melewati restoran Van De Jong, di halamannya terdapat teko raksasa yang tampak seperti melayang di udara dan menuangkan air ke cangkir yang tak kalah besarnya. Tak sedikit pengunjung yang mampir untuk berfoto disini.

“Ini salah satu lokasi foto yang diunggah temanku di IG,” kata Estu, makin antusias.

Tak hanya restoran, kawasan Wisata Agro Kebun Teh Kaligua memiliki fasilitas lain yang cukup lengkap. Mulai kafe, sarana ibadah, lapangan olahraga, area outbound, area perkemahan, hingga sarana kesehatan dan gedung pertemuan.

Kalau ingin lebih puas menjelajah kawasan seluas 600 hektar ini, disarankan untuk bermalam di vila atau homestay. Dengan begitu, keesokan paginya bisa tea-walksembari menghirup udara segar dan menyentuh beningnya embun di pucuk daun teh.

Saat akhir pekan, Wisata Agro Kebun Teh Kaligua ramai dikunjungi wisatawan yang kebanyakan datang dengan mobil pribadi. Namun, tak sedikit juga keluarga atau rombongan yang memilih naik mobil terbuka (pick up). Biasanya mereka berasal dari desa-desa di seputaran Bumiayu.

Atraksi wisata yang ditawarkan cukup beragam, antara lain perahu bebek, balon air besar, flying fox, atau sekedar menikmati pemandangan dari atas gardu pandang. Bisa juga memilih paket wisata seperti tur kebun dan pabrik teh.

Bagi penyuka sejarah, terdapat beberapa situs menarik yaitu Goa Jepang, Goa Angin, makam Van De Jong, dan yang tidak boleh terlewatkan adalah air abadi Tuk Bening.

Tuk Bening merupakan mata air alami yang terus mengalir dari perut bumi. Airnya sebening kristal dan sungguh menyegarkan bak oase di padang pasir.

Hasil uji lab oleh Sucofindo tahun 2011 lalu menunjukkan air Tuk Bening kaya akan kandungan mineral. Tak heran, sejak dulu masyarakat meyakini mandi atau membasuh wajah dengan air Tuk Bening bisa membuat awet muda.

Tak mau melewatkan kesempatan ini, Estu dan temannya pun membasuh wajah sepuasnya, berwudhu, dan menampung air dari pancuran Tuk Bening ke botol minum.

“Aku langsung minum di tempat. Alami dan seger banget! Sumber mata air seperti ini yang selalu dicari para pendaki gunung,” kata Estu yang beberapa kali melakukan solo travelling.

Tak jauh dari Tuk Bening, lokasi ini tak akan dilewatkan oleh wisatawan milenial khususnya yang gemar berswafoto dan mejeng di Instagram.

Ini adalah hamparan kebun teh dengan tulisan “I Love (simbol hati) Kaligua” dalam ukuran besar, yang memang didesain sebagai spot foto. Jika ingin lebih Instagramable, tinggal menyewa kostum dan caping pemetik teh.

“Orang bilang, no pict hoax. Kalau sudah foto di sini, teman-teman pasti percaya dong kalau aku sudah sampai di Kaligua,” tutur Estu yang menghabiskan waktu hampir satu jam untuk menemukan angle foto paling artistik.

Puas berfoto dan jalan-jalan, pengunjung Kaligua bisa beristirahat sembari makan di warung atau kios yang ada di dalam kawasan kebun teh, atau sekedar jajan jagung bakar layaknya di puncak.

“Kalau pas akhir pekan atau libur bisa terjual 300-an jagung. Kalau hari biasa sekitar 150 lah,” kata salah seorang penjual jagung.

Sebelum pulang, pengunjung bisa membeli souvenir seperti kaos, topi, dan pernak-pernik gelang. Tapi, berkunjung ke Kaligua kurang afdhal jika tak membeli oleh-oleh teh hitam Kaligua, baik yang berupa daun teh kering ataupun teh celup. Harganya sangat terjangkau, mulai Rp5000 per bungkus.

Seiring tren berwisata di kalangan milenial, pengelola Wisata Agro Kebun Teh Kaligua bersama pemerintah daerah setempat juga menyelenggarakan event tahunan yaitu Kaligua Culture Festival, yang tahun ini digelar pada 27-28 Juli lalu.

Meski skalanya masih kecil, acara yang dimeriahkan dengan panggung hiburan musik dan bazar ini cukup menyedot perhatian pengunjung terutama anak-anak muda dan keluarga.

Bagaimanapun, eksotisme Kaligua yang menyuguhkan pemandangan nan indah, sumber mata air abadi nan segar, dan sederet situs bersejarah, merupakan daya tarik pariwisata yang perlu dijaga dan dilestarikan bersama agar berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.

Ini sejalan dengan slogan yang selalu digaungkan Menteri Pariwisata Arief Yahya: semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan.

tags:

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *