Home sport Piala Dunia 2018: Uruguay, Sepak Bola, dan El Maestro
Piala Dunia 2018: Uruguay, Sepak Bola, dan El Maestro

Piala Dunia 2018: Uruguay, Sepak Bola, dan El Maestro

0
0

Para suporter Uruguay meyakini pelatih tim nasional mereka, Oscar Tabarez, akan membawa tim ini lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2018.

Setelah menang tipis 1-0 melawan Mesir pada pertandingan pertama Grup H, Uruguay akan menghadapi Arab Saudi di Stadion Rostov Arena, Rostov-on-Don, malam ini, Rabu 20 Juni 2018. Satu kemenangan lagi akan menjamin langkah pasukan Tabarez ke 16 besar.

Suporter Uruguay bahkan sudah berterima kasih kepada Tabarez yang membawa tim ini kembali tampil di putaran final Piala Dunia seperti empat tahun lalu di Brasil.

Tapi, untuk kali ini, para suporter Uruguay masih prihatin dengan salah satu pemain bintang mereka, Luis Suarez, yang menjadi andalan di lini depan Barcelona musim lalu.

Suarez, yang malam nanti akan tampil ke-100 kalinya buat tim nasional, gagal memanfaatkan sejumlah peluang ketika menghadapi Mesir. Adalah Jose Gimenez yang kemudian menyelamatkan peluang kemenangan pasukan Tabarez dengan tandukannya pada menit-menit terakhir.

“Suarez belum menemukan bentuk permainan terbaiknya. Tapi, kami berharap ia mulai menunjukkan siapa ia sebenarnya mulai dari sekarang,” kata Fabian Vuissa, 30, yang menempuh perjalanan jauh dari Montevideo untuk datang ke sebuah fan zone atau zona suporter di Rostov.

Suporter Uruguay yang lain, Juan Martin Di Pascua, 22, yang mengenakan kostum tim nasional mencemaskan Suarez kaena ia adalah pemain kunci bersama Edinson Cavani. “Jadi, saya berdoa kepada Tuhan supaya ia mulai bermain bagus lagi secepatnya.”

Meski hanya berpenduduk 3,4 juta orang, Uruguay sudah memiliki tradisi sepak bola yang panjang, sejak menjadi tuan rumah Piala Dunia yang pertama pada 1930 dan memenanginya.

Tim Uruguay menciptakan prestasi fenomenal yang terkenal dengan sebutan Maracanazo setelah mengalahkan tuan rumah Brasil pada final Piala Dunia 1950.

Di belakang Di Pascua, sejumlah suporter Uruguay bernyanyi, “Kami akan melakukannya lagi. Kami akan juara lagi, seperti yang pertama kali.”

“Sepak bola adalah bagian besar dari kebudayaan kami. Itu adalah sesuatu yang membuat kami hidup. Adalah sepak bola, sepak bola, dan sepak bola. Ketika sejumlah negara lainnya memperlakukannya sebagai sebuah olahraga, buat kami itu adalah gairah hidup,” jelas Di Pascua.

Uruguay sudah gagal lolos kualifikasi tiga kali dari empat Piala Dunia di antara 1994 dan 2006. Tapi, harapan negara sepak bola itu diselamatkan lagi oleh mantan guru sekolah, Tabarez, yang kini terkenal dengan sebutan El Maestro.

Tabarez memimpin Uruguay menembus semifinal Piala Dunia 2010, prestasi terbaik sejak 1970. Jika, timnya mengalahkan Arab Saudi di Rostov, mereka akan mencapai 16 besar Piala Dunia untuk ketiga kali.

“Tabarez mengubah sepak bola Uruguay. Ia mengembalikan mistik ke tim nasional, cerita rakyat itu,” kata Hugo Hugo Mena, yang menempuh perjalanan 48 jam dari kota Chuy, dekat perbatasan dengan Brasil, untuk mencapai Rusia. “Ia mengubah mentalitas dalam tim dan memberikan pemain rasa tanggung jawab dan komitmen yang baru.”

tags:

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[xcarousel condition="" order="DESC" featured="0" cats="movies" autoplay="" count="5"]