June 29, 2022

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut ekonomi global terus diwarnai dengan meningkatnya inflasi di tengah pertumbuhan yang diperkirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.

Berlanjutnya ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina disertai pengenaan sanksi yang lebih luas dan kebijakan zero COVID-19 di China menahan perbaikan gangguan rantai pasokan. Gangguan ini diikuti meluasnya kebijakan proteksionisme terutama pangan oleh berbagai negara, sehingga mendorong tingginya harga komoditas global yang berdampak pada peningkatan tekanan inflasi global.

“Meskipun kami revisi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,4 persen. Dengan kenaikan suku bunga acuan dan kebijakan zero COVID-19 di China menimbulkan risiko pertumbuhan ekonomi global mencapai 3 persen di tahun 2022 ini,” kata Perry dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (23/6).

Walaupun demikian, Perry memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia akan naik kembali menjadi 3,3 persen pada 2023. Ia mengatakan negara-negara maju mengalami inflasi tinggi karena tidak mempunyai ruang fiskal atau menaikkan subsidi.

“Ruang fiskal yang terbatas di sejumlah negara menyebabkan kenaikan harga komoditas global, sehingga berdampak pada dalam negeri. Sejarah bank sentral tidak hanya AS menaikkan suku bunga, terjadi di Brasil, India, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya,” ujarnya.

Perry menyebut kenaikan suku bunga menyebabkan turunnya permintaan. Kebijakan zero COVID-19 di China mengakibatkan perlambatan ekonomi global.