October 3, 2022

BERDASARKAN data Badan Kesehatan Dunia, WHO, ada lebih dari 285 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan dan 39 juta di antaranya mengalami kebutaan.

Penyebab kebutaan terbanyak adalah katarak 81%, diikuti oleh kelainan segmen posterior non-RD 5,8%, kekeruhan kornea nontrachoma 2,8%, kelainan bola mata/SSP abnormal 2,7%, glaukoma 2,5%, dan kelainan refraksi 1,7%

Adapun prevalensi gangguan penglihatan menurut Riskesdas tahun 2013, diperkirakan 0,4% penduduk Indonesia mengalami  kebutaan/gangguan penglihatan. Sebanyak 80% dari para penyandang gangguan penglihatan dan kebutaan ini dapat dicegah, bahkan diobati.

“Data ini mendasari fokus program penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia, pada penanggulangan katarak dan gangguan penglihatan dengan penyebab lainnya,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI, dr Anung Sugihantono Mkes di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan, gangguan penglihatan dengan penyebab lainnya, seperti glaukoma, retinopati diabetikum, retinopathy of prematurity (ROP), dan low vision juga menjadi prioritas program saat ini.

“Glaukoma dan retinopati diabetikum dijadikan prioritas, mengingat meningkatnya angka penyandang diabetes. Diperkirakan 1 dari 3 penderita diabetes berisiko terkena retinopati diabetikum.

Pasien dengan diabetes memiliki risiko 25 kali lebih mudah mengalami kebutaan akibat retiniopati dibandingkan dengan yang nondiabetes. Penyakit tidak menular merupakan salah satu faktor risiko gangguan penglihatan dan kebutaan,” ucap dr Anung.

Dia juga menjelaskan bahwa Kementerian Kesehatan terus mengedukasi masyarakat dengan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di puskesmas untuk menemukan persoalan mata sejak dini.

“Kita harus fokus pada perilaku gaya hidup sehat, pahami betul bahwa gangguan penglihatan bisa diakibatkan oleh perilaku sehari-hari seperti main gadget, komputer, harus istirahatkan mata, ingatkan anak saat main HP dan jangan membaca sambil tiduran,” imbuh dr Anang.

Sementara itu, Wakil Ketua Komite Mata Nasional (Komatnas) dr Aldiana Halim SpM (K) menambahkan bahwa gangguan penglihatan ada beberapa kategori, skala sedang, berat, dan buta. “Seluruh Indonesia ada 6,4 juta orang yang mengalami gangguan penglihatan.

1,3 juta di antaranya buta, sementara 5,1 jutanya sedang dan berat. Bisa dikatakan, buta jika seseorang dalam jarak 3 meter tidak bisa menghitung jari, namun penyebab kebutaan bisa dihindari 80 persen dan bisa ditangani,” sebut dr Aldiana.

Menurutnya, kebiasaan melihat gadget dari dekat terus-menerus akan memengaruhi gangguan penglihatan, dianjurkan maksimal 2 jam dan istirahat 10 menit untuk melihat jauh. “Pengaruh gadget terhadap gangguan penglihatan sebenarnya belum pernah diteliti.

Namun baiknya jangan jadikan gadget atau komputer sebagai sumber cahaya. Jangan menggunakannya di tempat gelap, harus ada cahaya, harus memiliki gaya hidup yang sehat, olahraga cukup, jangan merokok agar tidak terkena gangguan penglihatan,” ucap dr Aldiana.

2 thoughts on “Cegah Kebutaan dengan Hidup Sehat

  1. 203000 422458Usually I do not read post on blogs, however I would like to say that this write-up extremely forced me to check out and do so! Your writing taste has been surprised me. Thank you, quite great post. 563037

Leave a Reply

Your email address will not be published.