June 29, 2022

Ekspor minyak mentah Rusia ke Cina dan India melonjak signifikan seiring dengan sanksi negara barat atas invasi Moskow ke Ukraina pada akhir Februari 2022. Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (UE), dan sekutunya mengembargo minyak Rusia dan memaksa negara tersebut mencari pasar baru.

Menurut data perusahaan analisis komoditas, Kpler, saat ini sekitar 74-79 juta barel minyak Rusia ada dalam posisi transit, sebagian besar menuju Cina dan India, selama sepekan terakhir. Padahal, sebelum invasi ke Ukraina dimulai, volumenya hanya sekitar 27 juta barel.

Menurut analisis Kpler, Asia untuk pertama kalinya menjadi pembeli minyak Rusia terbesar, menggantikan Eropa. Dan selisih volume pembelian dua kawasan tersebut diperkirakan akan semakin besar pada bulan ini.

Lonjakan tajam dalam minyak Rusia dalam transit melalui laut menggarisbawahi bagaimana kacaunya perdagangan energi global imbas invasi Rusia terhadap Ukraina, dengan AS, Inggris dan banyak perusahaan Uni Eropa melakukan embarga.

Hal ini memaksa Rusia untuk mencari pembeli baru di Asia. Cina dan India telah meningkatkan pembeliannya dari Rusia berkat diskon besar yang mereka terima hingga sebesar US$ 30 per barel.

“Beberapa pembeli yang tertarik di Asia lebih termotivasi oleh ekonomi daripada mengambil sikap politik,” kata seorang analis minyak senior di Kpler di Singapura Jane Xie, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (27/5).

“Peningkatan pembelian minyak Rusia oleh India telah menjadi perhatian AS. Jadi mungkin akan ada beberapa risiko dari arus perdagangan ini, meskipun mungkin tidak akan terpengaruh secara signifikan,” tambah Xie.

Dia menambahkan bahwa total ekspor minyak Rusia ke pembeli utama Asia, India dan Cina, melonjak ke rekor tertinggi pada April, terutama didorong oleh peningkatan pembelian dari India. “Meskipun pengiriman bulan ini kemungkinan akan sedikit lebih rendah, mereka hanya akan dikalahkan oleh rekor bulan lalu,” katanya.

Volume minyak mentah yang transit di laut akan meningkat 45 juta hingga 60 juta barel karena meningkatnya perdagangan lintas laut Rusia dengan Asia jika UE dapat menyepakati penghapusan semua impor dari negara tersebut pada akhir tahun ini.

Kapal terpaksa melakukan perjalanan yang lebih lama saat mengangkut minyak mentah dari pelabuhan barat Rusia ke Asia daripada Eropa, dengan perjalanan satu arah ke Cina biasanya memakan waktu sekitar dua bulan.

Pada 26 Mei, sekitar 57 juta barel minyak mentah Ural dan 7,3 juta barel minyak mentah ESPO Timur Jauh Rusia diamati sedang transit di laut, naik dari sebelumnya hanya 19 juta barel minyak Ural dan 5,7 juta minyak ESPO pada akhir Februari.

Rusia mencari pasar baru seiring dengan rencana UE mengembargo minyak mentah dan produk olahan minyak dari negara tersebut sebagai sanksi atas invasi ke Ukraina. Deputi Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan pasar Asia menjadi salah satu targetnya.

“Rusia akan mengirim minyak yang ditolak negara Eropa ke Asia dan wilayah lainnya. Eropa harus mencari pengganti pasokan yang akan lebih mahal,” ujarnya seperti dikutip Reuters, Kamis (19/5).

Eropa menerima sekitar 4 juta barel per hari minyak mentah dari Rusia. Novak mengatakan bahwa Rusia siap mengalihkan pasokan tersebut ke wilayah lain dan membiarkan Eropa mencari pasokan baru yang lebih mahal dari tempat lain.

Sanksi negara barat kepada Rusia atas invasinya ke Ukraina pada Februari yang masih berlangsung hingga hari ini membuat sejumlah pembeli menunda atau bahkan membatalkan pembelian. Ini membuat produksi minyak Rusia menyusut.

Novak mengatakan bahwa produksi minyak Rusia turun sekitar 1 juta bph pada April. Namun pada Mei tingkat produksi pulih sekitar 200-300 ribu bph dengan pemulihan lebih lanjut ditargetkan pada bulan depan.

Novak juga mengklaim bahwa ekspor minyak negaranya secara bertahap mulai pulih setelah beberapa negara setop melakukan pembelian sebagai sanksi atas invasi ke Ukraina. “Rusia akan mencari pasar ekspor baru karena harga energi kami yang kompetitif,” ujarnya.