February 3, 2023

TEMPO.COJakarta –  Terdakwa kasus pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat Ferdy Sambo  menyatakan jika istrinya, Putri Candrawathi diperkosa oleh Brigadir Yosua.

“Istri saya kan diperkosa sama Yosua. Tidak ada motif lain, apalagi perselingkuhan,” kata dia di sela sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 6 Desember 2022.

Eks Kadiv Propam Polri mengungkapkan hal itu saat ditanya mengenai keterangan eks ajudannya Bhayangkara Dua Richard Eliezer dalam sidang sebelumnya yang menyebut pernah lihat seorang perempuan menangis keluar dari rumah Sambo di Jalan Bangka.

Sambo menyebut keterangan Richard hanya karangan saja. Dia pun mengatakan, akan mempertanyakan siapa yang menyuruh Bharada E berbohong. “Tidak benar itu keterangan dia, ngarang-ngarang,” ujarnya.

Ia pun mengatakan agar Richard tidak melibatkan istrinya, Putri Candrawathi, eks ajudannya Ricky Rizal, dan asisten rumah tangganya Kuat Ma’ruf. Ia mengatakan akan mengawasi supaya persidangan adil dan obyektif agar tidak ada isu lain yang berkembang.

“Kalau dia yang menembak Yosua jangan libatkan istri saya, jangan libatkan Ricky, Kuat. Saya siap bertanggung jawab atas semua yang saya lakukan,” kata Ferdy Sambo.

Sebelumnya, dalam Berita Acara Pemeriksaan atau BAP tambahan yang sempat dilihat Tempo, Putri Candrawathi menyebut Brigadir Yosua telah melakukan perbuatan yang keji kepadanya.

Putri dalam BAP itu menceritakan tuduhan pelecehan seksual yang dilakukan Yosua.

“Saat saya tertidur perkiraan sore hari, namun untuk jam nya saya tidak ingat, saya mendengar pintu kaca terbuka (karena saat itu terdengar keras), lalu saya melihat tiba-tiba Yosua sudah berada di dekat kaki saya, kemudian Nofriansyah Yosua Hutabarat melihat kearah saya lalu saya mengatakan “Kamu ngapain di sini?” kata Putri.

Setelah itu, Putri menceritakan adegan-adegan pelecehan seksual yang disebutnya dilakukan Brigadir Yosua. Dalam berita acara itu, Putri dengan detail menceritakan adegan tersebut. Hingga dia menyebut sang ajudan sadis. “Kejam kamu Yos! Sadis!,” kata Putri.

Dalam pengakuannya, Putri mengaku tak bisa melawan. Menurut dia, saat itu Yosua terus melanjutkan aksinya. Putri pun berontak.

“Saya menangis dan berusaha untuk melawan tapi tidak bisa karena saya saat itu merasa pusing, sementara kedua tangan saya dipegang dengan sangat kencang oleh Yosua sehingga tidak dapat terlepas,” kata dia.

Pada tengah malam Putri menelepon suaminya, Ferdy Sambo, dan menceritakan peristiwa itu secara tidak rinci dengan mengatakan Yosua masuk ke kamarnya dan berlaku kurang ajar. 

Peristiwa itulah yang diduga memicu Ferdy Sambo merencanakan pembunuhan terhadap Brigadir Yosua. Dia kemudian meminta Bhayangkara Dua Richard Eliezer alias Bharada E sebagai eksekutor.

Dalam skenario yang dibuat oleh mantan Kepala Divisi Propam itu, Yosua kepergok Richard melecehkan istrinya di rumah dinasnya di Kompleks Polri Duren Tiga No. 46. Yosua kemudian menembak Richard lebih dahulu, yang dibalas Richard dan akhirnya menewaskan Yosua.