February 3, 2023

TEMPO.COJakarta – Jepang, Inggris, dan Italia bekerja sama menggabungkan sebuah proyek jet tempur. Ini merupakan kolaborasi pertahanan industri besar pertama Jepang di luar Amerika Serikat sejak Perang Dunia Kedua.

“Kami berkomitmen untuk menegakkan tatanan internasional berbasis aturan, bebas dan terbuka, yang lebih penting dari sebelumnya pada saat prinsip-prinsip ini ditentang, dan ancaman serta agresi meningkat,” demikian pernyataan bersama ketiga negara, Jumat, 9 Desember 2022.

Sebelumnya pada Juli 2022, Reuters mewartakan kesepakatan itu bertujuan mengoperasikan pesawat tempur garis depan canggih pada 2035 mendatang. Caranya dengan menggabungkan proyek Future Combat Air System (Tempest) yang dipimpin Inggris dengan program F-X Jepang dalam kerangka Global Combat. 

Dengan latar belakang invasi Rusia ke Ukraina dan intensifnya aktivitas militer Cina di sekitar Jepang dan Taiwan, perjanjian tersebut diharapkan dapat membantu Jepang melawan kekuatan militer yang tumbuh dari tetangganya yang lebih besar. Di sisi lain, hal itu memberi Inggris peran keamanan yang lebih besar di wilayah yang merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi global.

Di tengah apa yang dilihat sebagai memburuknya keamanan regional, Jepang bulan ini akan mengumumkan rencana pembangunan militer yang diperkirakan akan melipatgandakan pembelanjaan pertahanan menjadi sekitar 2 persen dari produk domestik bruto selama lima tahun.

Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak secara terpisah mengatakan negaranya perlu tetap berada di ujung tombak teknologi pertahanan. Kesepakatan itu pun akan memberikan pekerjaan baru.

Menurut Kementerian Jepang Pertahanan, BAE Systems PLC Inggris, Mitsubishi Heavy Industries Jepang dan Leonardo Italia akan memimpin desain pesawat, yang akan memiliki kemampuan digital canggih dalam AI dan perang cyber.

Pembuat rudal Eropa MBDA juga akan bergabung dalam proyek tersebut, bersama produsen avionik Mitsubishi Electric Corp. Sedangkan Rolls-Royce PLC, IHI Corp dan Avio Aero akan mengerjakan mesin tersebut. Namun, ketiga negara tersebut belum menyelesaikan beberapa detail tentang bagaimana proyek tersebut akan dilanjutkan, termasuk pembagian kerja dan di mana pengembangan akan dilakukan.