October 4, 2022

Oppo dan OnePlus menghadapi larangan penjualan ponsel yang meluas menyusul sengketa paten dengan Nokia.

Dua perusahaan telah berhenti menjual ponsel mereka di Jerman dan mungkin menghadapi masalah serupa di negara Uni Eropa lainnya.

Selama bertahun-tahun, paten dan biaya lisensi telah menjadi inti dari perselisihan yang signifikan antara perusahaan teknologi. Oppo dan OnePlus terpaksa menarik ponsel mereka dari Jerman setelah kalah banding atas gugatan pelanggaran paten dari Nokia.

Sengketa paten antara Nokia dan Oppo berkaitan dengan teknologi 4G dan telah berlangsung selama beberapa tahun. Pada awal Juli, pengadilan distrik Mannheim mengeluarkan perintah yang mendukung Nokia dan, memerintahkan kedua pihak untuk mencapai penyelesaian.

Tapi jika gagal, larangan penjualan akan dikenakan pada ponsel Oppo. Kedua perusahaan tampak gagal menyelesaikan masalah ini, menyebabkan Pengadilan Regional Munich 1 memberlakukan larangan penjualan pada smartphone Oppo dan OnePlus di negara itu mulai 5 Agustus.

Juru bicara Oppo menyatakan bahwa masalah tersebut berasal dari perjanjian lisensi silang 4G dengan Nokia, di mana raksasa Finlandia itu mencari biaya lisensi pembaruan yang terlalu tinggi dan pergi ke pengadilan sehari setelah perjanjian berakhir.

Oppo telah menghapus semua penyebutan smartphone dan daftar produk terkait dari situs webnya di Jerman. Perusahaan juga mengonfirmasi bahwa pengguna dapat terus memakai perangkat tanpa masalah.

Selain itu perusahaan asal China ini mengatakan tidak sepenuhnya keluar dari pasar Jerman. Mereka akan terus menjual produk lain seperti headphone dan aksesori terkait, mengutip dari situs Android Police, Rabu, 10 Agustus 2022.

OnePlus di Jerman juga tidak lagi menyebutkan jajaran produknya. Pihak Oppo sedang bekerja dengan semua pihak yang terlibat untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Perusahaan diperkirakan memiliki pangsa 10 persen di pasar smartphone Jerman dan mengirimkan sekitar dua juta smartphone setiap tahun di wilayah tersebut.

Oppo dan OnePlus dilaporkan harus membayar €2,50 atau Rp38 ribu per smartphone yang dijual sebagai biaya lisensi.

Masalahnya adalah para pihak harus masuk ke dalam kesepakatan lisensi di seluruh dunia untuk mematuhi hukum Jerman.

Mereka harus membayar biaya lisensi pada smartphone yang dijual di seluruh dunia, tidak hanya di Jerman. Tentu saja biayanya tidak murah, baik Oppo maupun OnePlus mungkin lebih memilih untuk keluar dari pasar smartphone Jerman.

Selain Jerman, Nokia telah menggugat Oppo, OnePlus, dan perusahaan milik BBK lainnya seperti Realme dan Vivo di Prancis, Finlandia, Swedia, Spanyol, Inggris, dan Belanda atas sengketa paten.

Jika pengadilan berpihak pada raksasa Finlandia, itu bisa berakhir dengan larangan penjualan pada semua ponsel milik BBK di negara-negara besar Eropa.

Ironisnya, beberapa ponsel Nokia yang diproduksi HMD tidak lagi dijual di Jerman setelah sengketa paten serupa seputar fungsionalitas VoLTE.