June 29, 2022

PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menilai pasar surat utang Indonesia masih akan mengalami fluktuasi sampai akhir tahun ini. Penerbitan obligasi korporasi sepanjang 2022 diperkirakan berada pada kisaran Rp 105 triliun hingga Rp 110 triliun.

Head of Research & Market Information Department PHEI, Roby Rushandie mengatakan, fluktuasi pasar obligasi yang tinggi diakibatkan oleh ancaman inflasi dan tren kenaikan suku bunga bank sentral global.

Roby menjelaskan, inflasi menjadi salah satu sentimen penekan pasar obligasi Indonesia, karena mempengaruhi daya beli dan mengurangi imbal hasil atau return dari investasi. Kemudian, inflasi juga akan memicu bank sentral untuk membuat kebijakan.

“Pasar obligasi Indonesia hingga akhir 2022 diperkirakan cenderung volatil,” kata Roby dalam acara Edukasi Wartawan terkait Proyeksi Obligasi pada Semester II Tahun 2022, Rabu (22/6).

Adapun, sentimen lain yang akan mempengaruhi pergerakan pasar obligasi dalam negeri yakni, tensi geopolitik Rusia dengan Ukraina yang belum selesai, serta perkembangan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Sementara itu, kondisi ekonomi Indonesia yang terjaga dengan pemulihan yang semakin baik akan menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi. Selain itu, pasar obligasi Indonesia juga akan ditopang oleh penurunan defisit fiskal pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022. Berdasarkan data pemerintah, APBN mengalami surplus 0,58% hingga April 2022.

Lalu, pembagian beban atau burden sharing antara Bank Indonesia dan pemerintah sebesar Rp 224 triliun pada tahun ini juga diyakini dapat menjaga kondisi pasar obligasi Indonesia.

Rating utang Indonesia yang terjaga, seperti outlook Indonesia yang dinaikkan oleh Standard & Poor’s menjadi stabil, turut menjadi katalis positif bagi pasar obligasi,” ujar dia.

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan, hingga 3 Juni 2022, terdapat 36 emisi dalam pipeline pencatatan efek bersifat utang dan sukuk, yang rencananya akan diterbitkan oleh 30 perusahaan dengan perkiraan total dana yang akan dihimpun sebesar Rp 44,9 triliun.

Adapun sektor-sektor perusahaan yang berada dalam pipeline pencatatan efek bersifat utang dan sukuk yakni, sebanyak 17 perusahaan dari sektor keuangan, tiga perusahaan dari sektor infrastruktur, satu perusahaan dari sektor konsumer non primer, dan dua perusahaan sektor properti.

Kemudian, sebanyak tiga perusahaan dari sektor industri, dua perusahaan sektor bahan baku, satu perusahaan dari sektor transportasi, serta satu perusahaan dari sektor energi.