June 29, 2022

Beberapa BUMN baik secara langsung maupun melalui anak-anak perusahaannya sejak beberapa tahun terakhir aktif melakukan investasi di startup yang baru tumbuh ataupun di startup yang sudah berkembang menjadi unicorn hingga decacorn.

Bila Investasi BUMN di startup dibatasi maka dampaknya investor asing akan semakin leluasa menguasai startup asli Indonesia.

“Dari sekian banyak startup digital tersebut terdapat 10 startup yang sudah tergolong unicorn dan dua di antaranya bahkan sudah menjadi decacorn. Artinya, perusahaan startup di Indonesia memiliki valuasi yang sangat besar, lebih dari Rp 14 triliun atau bahkan lebih dari Rp 140 triliun,” kata Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah Redjalam dalam siaran pers, Jumat (27/5/2022).

Menurut dia, unicorn dan decacorn mampu menarik begitu besar modal asing masuk ke Indonesia, menciptakan lapangan kerja yang begitu besar dan menumbuh-kembangkan beribu-ribu UMKM. Unicorn dan decacorn Indonesia telah dan akan terus menjadi etalase produk-produk lokal sekaligus meningkatkan nilai merek-merek Indonesia.

Besarnya modal asing yang masuk ke unicorn dan decacorn di Indonesia sebut dia, memunculkan kritik tersendiri. Unicorn dan decacorn disebut-sebut bukan lagi perusahaan Indonesia dan oleh karena itu tidak bisa lagi dibanggakan.

“Kritik dan anggapan ini sangatlah tidak tepat. Di berbagai negara, penggerak startup adalah modal asing. Apalagi Indonesia yang memang sangat bergantung kepada modal asing,” ujarnya.

Piter menyebutkan, kehadiran investasi BUMN menjadi jawaban atas kekhawatiran dominasi kepemilikan asing di pada startup Indonesia.

Beberapa BUMN baik secara langsung maupun melalui anak-anak perusahaannya pun melakukan investasi di startup.

Namun, di balik investasi di startup oleh BUMN, jumlah risiko yang ditanggung tidak kecil, apalagi jika startup dengan valuasi yang besar sudah melantai di bursa dan melibatkan begitu banyak investor ritel.

Namun di sisi lain, valuasi startup tidak sepenuhnya tergambarkan dalam pergerakan harga saham, karena faktor sentimen juga akan ikut mewarnai pergerakan harga saham.

“Risiko pergerakan harga saham startup ketika melantai di bursa ini tentu saja harus dihadapi oleh BUMN yang menjadi investor sejak awal,” ujar Pieter.

Investasi Telkom ke GoTo

Misalkan saja Telkom, melalui anak perusahaanya PT Telkomsel yang berinvestasi di Gojek yang kemudian merger dengan Tokopedia membentuk GoTo. Investasi Telkom di GoTo cukup besar mencapai 450 juta dollar AS atau sekitar Rp 6,75 triliun.

Namun setelah beberapa hari IPO, harga saham GOTO turun tajam dari harga awalnya. Hal inilah kemudian menyebabkan potensial loss dalam portofolio perusahan telekomunikasi pelat merah tersebut.

“Seperti misalnya, harga saham Bukalapak dan GoTo yang turun di bawah harga IPO pasti akan memunculkan potensial loss di dalam portofolio mereka. Tetapi hal tersebut seharusnya dilihat sebagai sebuah kewajaran,” jelas Pieter.

Pieter menjelaskan, investasi BUMN di perusahaan startup bukanlah investasi jangka pendek. Kepemilikan saham startup oleh BUMN bukan untuk dijual segera ketika harganya sudah cukup tinggi.

“Kepemilikan saham startup digital oleh BUMN adalah untuk strategi jangka panjang dalam upaya membangun ekosistem digital di masa depan yang akan memberikan jaminan memenangkan persaingan,” ujarnya.

Investasi Bank Mandiri dan BRI ke startup

Dia merinci, ketika sebuah BUMN melakukan potential profit atau potential loss pada investasi startup, hendaknya diperlakukan hanya sebagai catatan dalam laporan keuangan, dan bukan sebagai ukuran kinerja BUMN, apalagi sebagai ukuran salah benar sebuah kebijakan.

Selain Telkom, Bank Mandiri melalui Mandiri Capital juga menanamkan modal di 23 perusahaan startup, 11 diantaranya sebagai lead investor. Beberapa portofolio Mandiri Capital sudah tumbuh menjadi unicorn yaitu Bukalapak, atau decacorn yaitu GoTo.

Bank BRI melalui anak perusahaannya BRI Ventures yang juga melakukan investasi di 21 perusahaan start up, dan menjadi lead investor di 5 perusahaan yang dibiayai. Beberapa portofolio BRI Ventures sudah tumbuh menjadi unicorn, seperti Bukalapak dan Xendit.

Menurut Pieter, menyalahkan BUMN karena adanya potential loss dari sebuah investasi pada startup digital, akan berdampak buruk bagi masa depan startup di Indonesia. Keterlibatan BUMN dalam perkembangan startup digital akan menurun drastis, dan start up di Indonesia akan kembali bergantung kepada modal asing.

“Startup yang potensial akan kembali dikuasai oleh investor asing. Jangan menjadi penyesalan apabila kelak pasar dan industri digital dikuasai oleh asing karena BUMN dibatasi pergerakannya untuk berinvestasi sejak dini pada startup Indonesia,” ujarnya.