May 28, 2022

JAKARTA – Saat ini penyakit yang mengancam anak-anak Indonesia, salah satunya penyakit anak anak terkait gangguan bicara (delay speech). Gangguan bicara yang dominan saat ini dikarenakan kecanduan gadget dan efek buruk mengajarkan bahasa asing secara tidak tepat.

“Pengaruh gadget sangat besar. Saat ini psikolog dan psikiater sudah memasukkan sindrom delay speech di kalangan anak-anak karena gadget. Saya melihat fenomena ini sudah muncul sejak lebih dari lima tahun terakhir ini, di mana memasuki era gadget,” kata Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit (RS) Asri Siloam Duren Tiga, Jakarta Selatan, dr Keumala Pringgardini SpA seusai acara peringatan Hari Anak Nasional di RS Asri Siloam Duren Tiga, Jakarta Selatan, Senin (23/07).

Seharusnya, kata Keumala, permasalahan ini sudah menjadi fokus bagi dunia medis dan media massa sehingga kasus delay speech bisa ditekan seminim mungkin demi masa depan anak-anak Indonesia. Selain disebabkan efek gadget, sindrom delay speech juga bisa terjadi akibat efek buruk mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak secara tidak tepat.

“Berdasarkan pengalaman saya menjadi dokter lebih dari 15 tahun maka bila saya menemukan kasus anak yang terlambat berbicara maka kami sudah panik. Duuh kok anak ini belum bisa bicara ya. Maka harus berupaya mengobatinya misalkan dengan fisioterapi dengan diagnosis delay speech,” beber Keumala.

Biasanya, anak-anak berusia 1,5 tahun hingga 2 tahun, bila ditemukan gejala delay speech, maka dokter sudah memberikan warning kepada orang tuanya. Jadi sebisa mungkin si anak kembali dengan cepat bisa berbicara sesuai perkembangan usianya.

“Saya selalu menekankan kepada orang tua agar pada anak-anak belajar bahasa ibu (utama) terlebih dahulu. Setelah mengerti dan lancar menggunakan bahasa ibu, barulah kemudian boleh mengajarkan anak dengan bahasa asing misalnya, Bahasa Inggris,” kata Keumala.

Menurut dia, ada salah kaprah pemahaman yang terjadi seakan akan kalau anak kecil tidak bisa bicara bahasa Inggris maka tidak keren. Padahal bila anak kecil diajarkan bahasa asing, pada saat anak itu belum menguasai bahasa Ibu (utama) maka bisa menyebabkan “korslet” sinaps-sinaps syaraf si anak. Efeknya bisa jangka panjang, akibatnya anak sulit memahami kata atau kalimat dalam salah satu bahasa, baik bahasa ibu ataupun bahasa kedua/asing.

”Sebaiknya bahasa ibu dikuasai terlebih dahulu oleh si anak dengan bagus, barus setelah itu bahasa tambahan-asing boleh diajarkan kepada anak,” kata Keumala.

Anak-anak antara tahun 1 dan 2 hingga tahun ke 3 harus fokus di bahasa ibu. Jadi, kata dia, sebaiknya bahasa kedua-asing, itu hanya merupakan bahasa tambahan bagi anak untuk menambah pengetahuan anak setelah dia memahami satu bahasa ibu.

“Korslet akibat mengajarkan bahasa asing tidak pas bagi anak, itu mungkin dampaknya tidak langsung kelihatan saat si anak itu belajar bahasa asing tapi nanti pada saat usia sekolah. Si anak menjadi kesulitan untuk membedakan pengertian dari salah satu atau beberapa kata,” kata Keumala.

Keumala menjelaskan, pada titik tertentu anak akan mengalami kesulitan dan membutuhkan waktu untuk memahami sebuah kata dan kalimat. Apa maksud dari sebuah kata atau kalimat yang dimaksud. Pada akhirnya nanti akan mengganggu kecerdasan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published.